Rabu, 02 Februari 2011

SAKIT DAN WAFATNYA NABI

IBADAH haji perpisahan kini sudah selesai,  dan  sudah  tiba
pula  saatnya  puluhan  ribu orang yang menyertai Nabi dalam
ibadah ini akan pulang ke rumah masing-masing. Penduduk Najd
pulang  mendaki  dataran  tinggi,  penduduk Tihama ke daerah
pantai dan penduduk Yaman dan Hadzramaut serta daerah-daerah
sekitarnya menuju arah selatan. Nabi dan sahabat-sahabat pun
bertolak menuju Medinah.
 
Bila mereka sudah sampai  dan  menetap  lagi  di  kota  itu,
keadaan  seluruh  semenanjung sudah aman. Tetapi, yang masih
selalu menjadi pikiran buat  Muhammad  ialah  soal  beberapa
daerah  yang  masih  di bawah kekuasaan Rumawi dan Persia di
daerah Syam, Mesir dan Irak. Dari pihak seluruh jazirah  itu
kini   sudah   tidak   ada   apa-apa   lagi.   Orang  secara
berbondong-bondong datang  memeluk  agama  Allah,  perutusan
datang  berturut-turut  ke  Yathrib menyatakan kesetiaannya,
menyatakan kehendaknya bernaung di bawah bendera Islam,  dan
semua  orang sudah menggabungkan diri kepadanya ketika dalam
ibadah haji perpisahan itu. Raja-raja Arab dengan  daerahnya
masing-masing  itu  betapa  takkan  ikhlas  kepada  Nabi dan
kepada  agamanya,  jika  oleh  Nabi  yang  ummi  itu  mereka
dibiarkan tetap dengan kekuasaannya dan dalam kemerdekaannya
sendiri pula! Bukankah Bad-han - Gubernur Persia di Yaman  -
dibiarkannya  dalam  kekuasaan  itu  tatkala  ia  menyatakan
keislamannya dan lebih menyukai kesatuan  wilayah  Arab  itu
dan    membuang    penyembahan    api    Persia?   Timbulnya
gerakan-gerakan semacam  pemberontakan  yang  diadakan  oleh
beberapa  orang  di  sepanjang  jazirah,  tidak  sampai akan
menghanyutkan Nabi dalam pemikirannya atau akan  menimbulkan
rasa kuatir dalam hati, setelah ternyata pengaruh agama baru
ini sudah tersebar ke segenap penjuru, semua wajah menghadap
hanya  kepada  Allah  Yang  Maha  Kuasa, kalbu beriman hanya
kepada Allah Yang Maha Esa.

Itu sebabnya, tatkala ada tiga orang yang  mendakwakan  diri
sebagai  nabi, oleh Muhammad tidak banyak dihiraukan. Memang
ada beberapa kabilah yang  berjauhan  dari  Mekah  -  begitu
mengetahui  Muhammad  mendapat sukses dengan ajarannya itu -
cepat-cepat  pula  mereka  menyambut   orang   yang   datang
mendakwakan  diri  nabi  dari  kabilah  mereka  itu,  dengan
harapan mereka akan mendapatkan nasib seperti yang ada  pada
Quraisy,  meskipun kabilah-kabilah ini, karena letaknya yang
jauh dari pusat agama baru, tidak  mengetahui  keadaan  yang
sebenarnya.  Akan  tetapi  ajakan kepada kebenaran Tuhan itu
sudah benar-benar berakar di tanah Arab. Tidak  mudah  orang
akan  dapat melawannya. Apa yang telah dialami Muhammad demi
menyampaikan  ajaran  ini,   beritanya   sudah   sampai   ke
mana-mana.  Kiranya  takkan  ada  orang yang sanggup memikul
beban ini, selain putera  Abdullah  itu.  Setiap  ada  orang
hendak   mendakwakan  diri  dengan  dasar  kepalsuan,  pasti
kepalsuan itu akan segera terbongkar. Setiap ada orang  yang
mendawakan  kenabian  tidak  pernah  ia  dalam nasibnya akan
mendapat sukses secara berarti.
 
Datang Tulaiha - pemimpin Banu Asad, salah seorang  pahlawan
Arab  dalam  perang  dan yang berkuasa di Najd - mendakwakan
diri, bahwa dia seorang nabi dan rasul,  dan  ia  memperkuat
dakwaannya itu dengan membuat ramalan mengenai sebuah tempat
sumber air, ketika golongannya itu dalam  perjalanan  hampir
mati  kehausan.  Tetapi selama Muhammad masih hidup ia tidak
berani mengadakan "pemberontakan"  dan  baru  ia  mengadakan
pemberontakan    itu   setelah   Rasulullah   berpulang   ke
rahmatullah.   Pembangkangan   Tulaiha   ini   oleh   Khalid
bin-'l-Walid  dihancurkan  dan  dia  sendiri kembali lagi ke
pihak Muslimin dan menjadi orang Islam yang baik.
 
Juga Musailima, juga Aswad al-'Ansi, yang selama hidup Nabi,
tidak  lebih  baik  daripada  nasib  Tulaiha.  Musailima ini
pernah mengirim surat kepada Nabi  dengan  mengatakan  bahwa
dia  nabi,  dan "Separoh bumi ini buat kami dan yang separoh
lagi buat Quraisy; tapi Quraisy adalah golongan  yang  tidak
suka berlaku adil."
 
Setelah  surat  itu  dibaca kedua orang utusan Musailima itu
oleh Nabi ditatapnya, dan  hendak  memberikan  kesan  kepada
mereka,  bahwa  Nabi  akan  menyuruh  supaya mereka dibunuh,
kalau tidak karena memang adanya ketentuan bahwa para utusan
harus  dijamin  keselamatannya. Kemudian Nabi membalas surat
Musailima  dengan  mengatakan  ia  sudah  mendengarkan   isi
suratnya dengan segala kebohongannya itu, dan bahwa bumi ini
kepunyaan Allah yang akan  diwarisi  oleh  hamba-hamba  yang
berbuat   kebaikan.  Dan  salam  bagi  orang  yang  mengikut
bimbingan yang benar.
 
Adapun Aswad  al-'Ansi  -  penguasa  Yaman  sesudah  Bad-han
meninggal  -  orang  ini  mendakwakan sebagai ahli sihir dan
mengajak orang dengan sembunyi-sembunyi. Karena sudah merasa
dirinya  sebagai  orang  penting  di  daerah  selatan, wakil
Muhammad yang di Yaman diusirnya,  dan  dia  pergi  lagi  ke
Najran,  anak Bad-han di sana dibunuhnya, isterinya dikawini
dan   singgasana   diwarisinya.   Ia   hendak    menyebarkan
pengaruhnya  di  kawasan  itu.  Tapi bahaya ini tidak banyak
mempengaruhi pikiran Muhammad. Dalam hal ini tidak lebih  ia
hanya  mengutus  orang  kepada  wakilnya1  di  Yaman  dengan
perintah supaya Aswad dikepung  atau  dibunuh.  Sekali  lagi
kaum  Muslimin  di  Yaman  berhasil  memalcsa Aswad, dan dia
sendiri mati dibunuh isterinya sendiri sebagai balasan  atas
dibunuhnya anak Bad-han suaminya yang dulu.
 
                            ***

Sekembalinya   dari  ibadah  haji  perpisahan,  pikiran  dan
perhatian Muhammad tertuju ke  bagian  utara,  sebab  daerah
selatan sudah tidak perlu dikuatirkan lagi. Sebenarnya sejak
terjadinya ekspedisi  Mu'ta,  dan  Muslimin  kembali  dengan
membawa  rampasan  perang dan sudah merasa puas pula melihat
kepandaian Khalid bin'l-Walid  menarik  pasukan,  sejak  itu
pula    Muhammad    sudah   memperhitungkan   pihak   Rumawi
matang-matang.  Ia   berpendapat   kedudukan   Muslimin   di
perbatasan  Syam  itu  perlu sekali diperkuat, supaya mereka
yang dulu pernah keluar dan jazirah ini ke Palestina,  tidak
kembali  lagi  menghasut  perang  dan  mengerahkan  penduduk
daerah itu. Oleh karena itu ia menyiapkan pasukan  perangnya
yang cukup besar, seperti persiapannya yang dulu, tatkala ia
mengetahui rencana Rumawi hendak menyerbu perbatasan jazirah
itu  dan  dia sendiri yang memimpin pasukan sampai di Tabuk.
Tetapi waktu  itu  pihak  Rumawi  sudah  menarik  pasukannya
sampai  ke  perbatasan  dalam  negeri  dan  ke dalam benteng
mereka sendiri. Sungguh pun begitu daerah  utara  ini  harus
tetap  diperhitungkan,  kalau-kalau kenangan lama - di bawah
lindungan Kristen dan pihak yang merasa  berkuasa  di  bawah
Imperium  Rumawi  waktu  itu  -  akan  bangkit  kembali  dan
mengumumkan perang kepada  pihak  yang  pernah  mengeluarkan
orang-orang Nasrani di Najran dan di luar Najran di bilangan
Semenanjung Arab itu.

Oleh karena itu, selesai ibadah haji  perpisahan  di  Mekah,
belum  lama  lagi  kaum  Muslimin  tinggal  di Medinah, Nabi
mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar
ke  daerah  Syam,  dengan  menyertakan  kaum  Muhajirin yang
mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini  dipimpin
oleh  Usama  b.  Zaid b. Halitha. Usia Usama waktu itu masih
muda sekali, belum melampaui  duapuluh  tahun.  Kalau  tidak
karena   terbawa   oleh   kepercayaan   yang   teguh  kepada
Rasulullah, pimpinan Usama atas orang-orang yang sudah lebih
dahulu  dan  atas kaum Muhajirin serta sahabat-sahabat besar
itu,  tentu   akan   sangat   mengejutkan   mereka.   Tetapi
ditunjuknya  Usama  b.  Zaid  oleh  Nabi  dimaksudkan  untuk
menempati tempat ayahnya yang sudah gugur dalam  pertempuran
di  Mu'ta dulu, dan akan menjadi kemenangan yang dibanggakan
sebagai  balasan  atas  gugurnya  ayahnya  itu,  di  samping
semangat  yang  akan  timbul  dalam iiwa pemuda-pemuda, juga
untuk  mendidik  mereka  membiasakan  diri   memikul   beban
tanggungjawab yang besar dan berat.

Muhammad   memerintahkan  kepada  Usama  supaya  menjejakkan
kudanya di perbatasan  Balqa'  dengan  Darum  di  Palestina,
tidak  jauh  dari  Mu'ta  tempat  ayahnya dulu terbunuh, dan
supaya menyerang musuh Tuhan  itu  pada  pagi  buta,  dengan
serangan  yang gencar, dan menghujani mereka dengan api. Hal
ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum  berita  sampai
lebih   dulu  kepada  musuh.  Apabila  Tuhan  sudah  memberi
kemenangan, tidak usah  lama-lama  tinggal  di  tempat  itu.
Dengan  membawa  hasil  dan  kemenangan  itu ia harus segera
kembali.

Sekarang Usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak  jauh
dari  Medinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat
ke Palestina. Tetapi, dalam pada mereka  sedang bersiap-siap
itu  tiba-tiba  Rasulullah  jatuh  sakit, dan sakitnya makin
keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.
 
Bisa jadi orang akan bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang
persiapan    dan    keberangkatannya    diperintahkan   oleh
Rasulullah, tidak  jadi  berangkat  karena  dia  sakit?  Ya,
Perjalanan  pasukan  ke Syam yang akan mengarungi sahara dan
daerah tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan, dan
tidak  pula  mudah  buat  kaum  Muslimin  - dengan Nabi yang
sangat mereka  cintai  melebihi  cinta  mereka  kepada  diri
sendiri  -  akan  meninggaIkan  Medinah  sedang  Nabi  dalam
keadaan  sakit,  dan  yang  sudah  mereka  sadari  pula  apa
sebenarnya dibalik sakitnya itu. Ditambah lagi mereka memang
belum pernah melihat Nabi mengeluh karena  sesuatu  penyakit
yang  berarti.  Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih
dari kehilangan nafsu makan  yang  pernah  dialaminya  dalam
tahun keenam Hijrah, tatkala ada tersiar berita bohong bahwa
ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu  penyakit
lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam,
yaitu setelah termakan daging beracun  dalam  tahun  ketujuh
Hijrah.  Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari
gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat  yang  akan  timbul
karenanya.  Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya
yang hanya sedikit; kesederhanaannya  dalam  berpakaian  dan
cara  hidup;  kebersihannya  yang  dipeliharanya  luar biasa
dengan mengharuskan  wudu  yang  sangat  disukainya,  sampai
pernah   ia   berkata:   kalau   tidak  karena  kuatir  akan
memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak2 lima
kali  sehari,  -  kegiatannya  yang  tiada  pernah berhenti,
kegiatan beribadat dari satu  segi  dan  kegiatan  olah-raga
dari  segi  lain,  kesederhanaan  dalam segalanya - terutama
dalam kesenangan; keluhurannya yang jauh  dari  segala  hawa
nafsu,   dengan  jiwa  yang  begitu  tinggi  tiada  taranya;
komunikasinya  dengan  kehidupan  dan  dengan  alam   dalam
bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, - semua
itu menjauhkan dirinya dari penyakit  dan  dapat  memelihara
kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan
yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad,  akan  jauh
selalu dari penyakit.
 
Jadi  kalau  sekarang  ia  jatuh sakit, wajar sekali menjadi
kekuatiran    sahabat-sahabat    dan    orang-orang     yang
mencintainya.
 
Wajar  sekali  mereka  merasa  kuatir,  menyatakan betapa ia
pernah mengalami kesulitan  dan  penderitaan  hidup  selarna
duapuluh   tahun  terus-menerus.  Sejak  ia  terang-terangan
berdakwah di Mekah mengajak orang menyembah Allah Yang tiada
bersekutu   dan   meninggalkan  semua  berhala  yang  pernah
disembah  nenek-moyang  mereka,  ia  sudah  mengalami  pahit
getirnya  penderitaan-penderitaan yang sungguh menekan jiwa,
sehingga ia terpisah dari sahabat-sahabatnya  yang  kemudian
disuruhnya hijrah ke Abisinia, dan dia sendiri yang terpaksa
berlindung  di  celah-celah  gunung  tatkala  pihak  Quraisy
mengumumkan  pemboikotannya. Juga ketika ia berangkat hijrah
dari Mekah ke Medinah - setelah Ikrar  'Aqaba  -  ia  hijrah
dalam  keadaan  yang  gawat  dan sangat berbahaya, ia hijrah
tanpa ia ketahui lagi apa yang akan terjadi terhadap dirinya
di  Medinah  kelak.  Pada  tahun-tahun pertama ia tinggal di
sana, ia  telah  menjadi  sasaran  kongkalikong  dan  intrik
orang-orang Yahudi.
 
Kemudian,  dengan  adanya pertolongan Tuhan orang di seluruh
jazirah itu datang berbondong-bondong  menerima  agama  ini,
tugas  dan  pekerjaannya telah bertambah jadi berlipat ganda
banyaknya dan untuk penjagaannya  sangat  memerlukan  tenaga
dan  daya  upaya  yang  sungguh berat. Begitu juga Nabi a.s.
telah menghadapi sendiri beberapa  peperangan  yang  sungguh
dahsyat  dan  mengerikan  sekali.  Mana pula saat yang lebih
mengerikan daripada peristiwa  Uhud,  ketika  kaum  Muslimin
dalam  keadaan  kucar-kacir,  ia  berJalan  mendaki  gunung,
dengan terus-menerus  secara  ketat  diintai  oleh  Quraisy,
dihujani  serangan sehingga gigi gerahamnya pecah! Mana pula
saat yang lebih dahsyat kiranya daripada  peristiwa  Hunain,
ketika  kaum Muslimin dalam pagi buta itu kembali mundur dan
lari tunggang-langgang, sehingga kata Abu Sufyan: Hanya laut
saja  yang akan menghentikan mereka. Sedang Muhammad berdiri
tegak,  tidak  beranjak  surut  dari  tempatnya,  seraya  ia
berseru  kepada  kaum-Muslimin:  Mau  ke  mana, mau ke mana!
Kemarilah kemari! Kemudian mereka  kembali  sampai  mendapat
kemenangan.  Tugas  risalah! Tugas wahyu! Dan itu daya upaya
rohani  yang  sungguh  meletihkan  dalam   komunikasi   yang
terus-menerus dengan rahasia alam nurani dan alam Ilahi. Itu
daya upaya, yang oleh karenanya pernah  diceritakan  tentang
Nabi  yang  berkata,  "Suruh Hud dan yang semacamnya membuat
aku jadi tua."3
]
Semua itu disaksikan oleh sahabat-sahabat  Muhammad.  Mereka
melihat  dia  memikul beban yang begitu berat tidak mengenal
sakit. Apabila kemudian ia jatuh  sakit,  sudah  sepantasnya
sahabat-sahabatnya  itu  jadi kuatir, dan menunda perjalanan
dari markas mereka di Jurf ke  Syam,  sebelum  mereka  yakin
benar  apa  yang  akan  terjadi dengan kehendak Tuhan kepada
diri Nabi.

Ada suatu peristiwa yang membuat mereka  lebih  cemas  lagi.
Pada malam pertama Muhammad merasa sakit ia tak dapat tidur,
lama sekali tak dapat tidur. Dalam hatinya ia berkata, bahwa
ia  akan  keluar  pada  malam  musim  itu,  musim panas yang
disertai hembusan angin  di  sekitar  kota  Medinah.  Ketika
itulah  ia  keluar,  hanya  ditemani  oleh  pembantunya, Abu
Muwayhiba.  Tahukah  ke  mana  ia   pergi?   Ia   pergi   ke
Baqi'l-Gharqad,   pekuburan   Muslim   di   dekat   Medinah.
Sesampainya di pekuburan itu ia  berbicara  kepada  penghuni
kubur,  katanya,  "Salam  sejahtera  bagimu,  wahai penghuni
kubur! Semoga  kamu  selamat  akan  apa  yang  terjadi  atas
dirimu,  seperti  atas  diri orang lain. Fitnah telah datang
seperti malam  gelap-gulita,  yang  kemudian  menyusul  yang
pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."
 
Abu  Muwayhiba ini juga bercerita, bahwa ketika pertama kali
sampai di Baqi'l-Gharqad Nabi berkata kepadanya:
 
"Aku mendapat perintah memintakan ampun untuk penghuni Baqi,
ini. Baiklah engkau berangkat bersama aku!"
 
Setelah  memintakan  ampun dan tiba saatnya akan kembali, ia
menghampiri Abu Muwayhiba seraya katanya:
 
"Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci  isi  dunia  ini
serta  kekekalan  hidup  di dalamnya, sesudah itu surga. Aku
disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga."
 
Kata Abu Muwayhiba:
 
"Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi  dunia  ini  dan
hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."
 
"Tidak,  Abu Muwayhiba," kata Muhammad. "Aku memilih kembali
menghadap Tuhan dan surga."
 
Abu Muwayhiba bercerita apa yang telah dilihat dan apa  yang
telah  didengarnya;  sebab  Nabi mulai menderita sakit ialah
keesokan harinya setelah malam itu ia pergi ke Baqi'.  Orang
jadi  makin  cemas,  dan pasukan tidak jadi bergerak. Memang
benar, bahwa Hadis yang dibawa  melalui  Abu  Muwayhiba  ini
oleh  beberapa  ahli  sejarah  diterima  dengan agak sangsi.
Disebutkan bahwa bukan karena sakit Muhammad itu  saja  yang
membuat  pasukan  tidak  jadi  bergerak ke Palestina, tetapi
karena banyaknya orang yang menggerutu, yang disebabkan oleh
penunjukan  Usama  dalam  usia  semuda  itu sebagai pemimpin
pasukan yang terdiri dari orang-orang penting dalam kalangan
Anshar  dan  Muhajirin  yang  mula-mula.  Itulah  yang lebih
banyak mempengaruhi tidak berangkatnya pasukan itu  daripada
sakitnya  Muhammad.  Dalam  memberikan pendapatnya ahli-ahli
sejarah itu berpegang pada  peristiwa-peristiwa  yang  sudah
pembaca  ikuti dalam bagian (bab) ini. Kalau kita tidak akan
mendebat  mereka   yang   berpendapat   seperti   apa   yang
diceritakan  oleh  Abu Muwayhiba secara terperinci itu, kita
pun mendapat alasan  akan  menolak  dasar  kejadian-kejadian
itu,  dan  menolak  kepergian  Nabi  ke Baqi'l-Gharqad serta
memintakan ampunan buat penghuni kubur, juga adanya perasaan
yang  kuat akan dekatnya waktu, yaitu waktu menghadap Tuhan.
Ilmu pengetahuan masa kita sekarang ini  pun  tidak  menolak
adanya   spiritisma   sebagai  salah  satu  gejala  psychis.
Perasaan yang kuat  akan  dekatnya  ajal  itu  sudah  banyak
dialami  orang, sehingga siapa saja tidak sedikit orang yang
dapat   menceritakan   apa   yang    diketahuinya    tentang
peristiwa-peristiwa  itu.  Juga  adanya hubungan antara yang
hidup dengan yang mati, antara kesatuan masa  lampau  dengan
masa  datang,  kesatuan  yang  tidak terbatas oleh ruang dan
waktu, dewasa ini sudah pula dapat  ditentukan,  meskipun  -
menurut  kodrat bentuk kita -masih terbatas sekali kita akan
dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.
 
Kalau sudah itu yang dapat kita  lihat  sekarang  dan  sudah
diakui  oleh  ilmu  pengetahuan,  tidak ada alasan kita akan
menolak dasar peristiwa seperti apa  yang  diceritakan  oleh
Abu  Muwayhiba  itu,  juga tak ada alasan kita dapat menolak
adanya apa yang sudah dapat dipastikan  mengenai  komunikasi
Muhammad dalam arti rohani dan spiritual dengan alam semesta
ini demikian rupa, sehingga ia dapat menangkap persoalan itu
sekian  kali  lipat  daripada yang biasa ditangkap oleh para
ahli dalam bidang ini.

Keesokan harinya bila tiba waktunya  ia  ke  tempat  Aisyah,
dilihatnya Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: "Aduh
kepalaku!" Tetapi ia berkata - sedang dia sudah mulai merasa
sakit: "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."
 
Tetapi  sakitnya  belum  begitu  keras  dalam  arti ia harus
berbaring di tempat  tidur  atau  akan  merintanginya  pergi
kepada  keluarga dan isteri-isterinya untuk sekedar mencumbu
dan bergurau. Setiap didengarnya  ia  mengeluh  Aisyah  juga
mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.
 
Lalu  kata  Nabi, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih
dulu sebelum aku. Aku yang  akan  mengurusmu,  mengafanimu,
menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"
 
Karena  senda-gurau  itu  cemburu kewanitaannya timbul dalam
hati Aisyah yang masih muda  itu,  sekaligus  cintanya  akan
gairah hidup ini, lalu katanya:
 
"Dengan  begitu  yang  lain mendapat nasib baik. Demi Allah,
dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau  menyuruh
aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin
baru dengan isteri-isterimu."
 
Nabi tersenyum, meskipun rasa sakitnya tidak mengijinkan  ia
terus bergurau.
 
Setelah  rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi
isteri-isterinya seperti  biasa.  Tetapi  kemudian  sakitnya
terasa  kambuh  lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia
sedang berada di rumah Maimunah ia sudah  tidak  dapat  lagi
mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu
dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah.  Dimintanya
ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa
ia  akan   dirawat   di   rumah   Aisyah.   Isteri-isterinya
mengijinkan ia pindah.
 
Dengan  berikat  kepala,  ia  keluar  sambil bertopang dalam
jalannya itu kepada Ali  b.  Abi  Talib  dan  kepada  'Abbas
pamannya.  Ia  sampai di rumah Aisyah dengan kaki yang sudah
terasa lemah sekali.

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa
makin  keras,  sehingga  ia  merasa  seolah seperti dibakar.
Sungguh  pun  begitu,  ketika  demamnya  menurun  ia   pergi
berjalan  ke  mesjid  untuk  memimpin  sembahyang.  Hal  ini
dilakukannya selama  berhari-hari.  Tapi  tidak  lebih  dari
sembahyang  saja.  Ia  sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap
dengan sahabat-sahabatnya. Namun begitu apa yang  dibisikkan
orang  bahwa dia menunjuk anak yang masih muda belia di atas
kaum Muhajirin dan Anshar  yang  terkemuka  untuk  menyerang
Rumawi, terdengar juga oleh Nabi. Meskipun dari hari ke hari
sakitnya bertambah  juga,  tapi  dengan  adanya  bisik-bisik
demikian  itu  rasanya  perlu  ia bicara dan berpesan kepada
mereka. Dalam hal ini ia berkata  kepada  isteri-isteri  dan
keluarganya:
 
"Tuangkan  kepadaku  tujuh  kirbat  air dari pelbagai sumur,
supaya  aku  dapat  menemui  mereka  dan  berpesan4   kepada
mereka."
 
Lalu  dibawakan  air  dari  beberapa sumur, dan setelah oleh
isteri-isterinya  ia  didudukkan  di  dalam  pasu  kepunyaan
Hafsha,   ketujuh   kirbat  air  itu  disiramkan  kepadanya.
Kemudian katanya: Cukup. Cukup.

Lalu ia  mengenakan  pakaian  kembali,  dan  dengan  berikat
kepala  ia pergi ke mesjid. Setelah duduk di atas mimbar, ia
mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan
dan  memintakan  ampunan  buat sahabat-sahabatnya yang telah
gugur di  Uhud.  Banyak  sekali  ia  mendoakan  mereka  itu.
Kemudian katanya :
 
"Saudara-saudara.  Laksanakanlah  keberangkatan  Usama  itu.
Demi  hidupku.  Kalau  kamu  telah  banyak  bicara   tentang
kepemirnpinnya,  tentang  kepemimpinan ayahnya dulu pun juga
kamu banyak bicara.  Dia  sudah  pantas  memegang  pimpinan,
seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."
 
Muhammad diam sebentar. Sementara itu orang-orang juga diam,
tiada yang bicara. Kemudian ia meneruskan berkata lagi:
 
"Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara
dunia  dan  akhirat  dengan  apa  yang  ada padaNya, maka ia
memilih yang ada pada Tuhan."
 
Muhammad  diam  lagi,  dan  orang-orang  juga   diam   tidak
bergerak.  Tetapi  Abu  Bakr  segera  mengerti,  bahwa  yang
dimaksud oleh Nabi  dengan  kata-kata  terakhir  itu  adalah
dirinya.  Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya
persahabatannya dengan Nabi, ia tak dapat menahan  air  mata
dan menangis sambil berkata:
 
"Tidak.  Bahkan  tuan  akan  kami tebus dengan jiwa kami dan
anak-anak kami."
 
Kuatir rasa terharu Abu Bakr ini akan  menular  kepada  yang
lain, Muhammad memberi isyarat kepadanya:
 
"Sabarlah, Abu Bakr."
 
Kemudian dimintanya supaya semua pintu yang menuju ke mesjid
ditutup, kecuali pintu yang  ke  tempat  Abu  Bakr.  Setelah
semua pintu ditutup, katanya lagi:
 
"Aku  belum  tahu  ada  orang yang lebih bermurah hati dalam
bersahabat dengan aku seperti  dia.  Kalau  ada  dari  hamba
Allah  yang  akan  kuambil sebagai khalil (teman kesayangan)
maka  Abu  Bakrlah   khalilku.   Tetapi   persahabatan   dan
persaudaraan  ialah  dalam  iman,  sampai tiba saatnya Tuhan
mempertemukan kita."

Bilamana Muhammad turun dari mimbar, sedianya  akan  kembali
pulang  ke  rumah  Aisyah, tapi ia lalu menoleh kepada orang
banyak itu dan kemudian katanya:
 
"Saudara-saudara  Muhajirin,   jagalah   kaum   Anshar   itu
baik-baik;  sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang
Anshar akan seperti itu juga  keadaannya,  tidak  bertambah.
Mereka  itu  orang-orang  tempat aku menyimpan rahasiaku dan
yang telah memberi  perlindungan  kepadaku.  Hendaklah  kamu
berbuat  baik  atas  kebaikan  mereka  itu  dan  maafkanlah5
kesalahan mereka."

Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang  digunakannya
selama  ia  dalam  keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya
terasa lebih berat  lagi.  Sungguh  suatu  pekerjaan  berat,
terutama  buat  orang yang sedang menderita demam, ia keluar
juga setelah disirami tujuh kirbat  air;  ia  keluar  dengan
membawa  beban  pikiran  yang  sangat  berat: Pasukan Usama,
nasib Anshar kemudian hari, nasib orang-orang Arab yang kini
telah dipersatukan oleh agama baru itu dengan persatuan yang
sangat kuat. Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya  ia
berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya,
ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata:
 
"Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang."
 
Aisyah ingin sekali Nabi  sendiri  yang  melaksanakan  salat
mengingat bahwa tampaknya sudah berangsur sembuh.
 
"Tapi  Abu  Bakr  orang yang lembut hati, suaranya lemah dan
suka menangis kalau sedang membaca Qur'an," kata Aisyah.
 
Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Tetapi dengan  suara
lebih  keras  Muhammad berkata lagi, dengan sakit yang masih
dirasakannya:
 
"Sebenarnya  kamu  ini  seperti  perempuan-perempuan  Yusuf.
Suruhlah dia memimpin orang-orang bersembahyang!"
 
Kemudian   Abu   Bakr  datang  memimpin  sembahyang  seperti
diperintahkan oleh Nabi.
 
Pada suatu hari karena Abu Bakr tidak ada di  tempat  ketika
oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang
dipanggil untuk memimpin orang-orang  bersembahyang  sebagai
pengganti  Abu Bakr. Oleh karena Umar orang yang punya suara
lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid,  suaranya
terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.
 
"Mana  Abu  Bakr?"  tanyanya. "Allah dan kaum Muslimin tidak
menghendaki yang demikian."
 
Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi  menghendaki
Abu  Bakr  sebagai  penggantinya  kemudian,  karena memimpin
orang-orang  bersembahyang  sudah  merupakan  tanda  pertama
untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.

Tatkala  sakitnya  sudah  makin  keras, panas demamnya makin
memuncak,   isteri-isteri   dan   tamu-tamu   yang    datang
menjenguknya,  bila  meletakkan  tangan di atas selimut yang
dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan
itu.  Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia
sangat mencintai puterinya itu, cinta  seorang  ayah  kepada
anak  yang  hanya  tinggal  satu-satunya  sebagai keturunan.
Apabila  ia  datang  menemui  Nabi,  ia   menyambutnya   dan
menciumnya,  lalu  didudukkannya  di tempat ia duduk. Tetapi
setelah  sakitnya  demikian  payah,  puterinya  itu   datang
menemuinya dan mencium ayahnya.
 
"Selamat  datang,  puteriku," katanya. Lalu didudukkannya ia
disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya  ketika  itu,
Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain
Fatimah  pun  jadi  tertawa.  Bila  hal  itu   oleh   Aisyah
ditanyakan, ia menjawab:
 
"Sebenarnya  saya  tidak  akan  membuka  rahasia  Rasulullah
s.a.w."
Tetapi setelah Rasul wafat,  ia  mengatakan,  bahwa  ayahnya
membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya
sekali  ini.  Itu  sebabnya   Fatimah   menangis.   Kemudian
dibisikkannya  lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya
yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.
 
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air
dingin  diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan
tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.  Begitu
tingginya  suhu  panas  demam  itu,  kadang  ia  sampai  tak
sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang
sudah  sangat  payah  sekali.  Karena  perasaan  sedih  yang
menyayat hati, pada  suatu  hari  Fatimah  berkata  mengenai
penderitaan ayahnya itu:
 
"Alangkah beratnya penderitaan ayah!"

"Tidak.  Takkan  ada  lagi  penderitaan  ayahmu sesudah hari
ini," jawabnya.
 
Maksudnya ia akan meninggalkan dunia  ini,  dunia  duka  dan
penderitaan.
 
Suatu  hari  sahabat-sahabatnya  berusaha hendak meringankan
penderitaannya    itu     dengan     mengingatkan     kepada
nasehat-nasehatnya,  bahwa orang yang menderita sakit jangan
mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya  dalam  hal
ini  lebih  dari  yang  harus  dipikul oleh dua orang. Dalam
keadaan sakit keras serupa itu dan  di  dalam  rumah  banyak
orang, ia berkata:
 
"Bawakan  dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat
buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak  lagi  akan  pernah
sesat."
 
Dari  orang-orang  yang  hadir ada yang berkata, bahwa sakit
Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada  kita  sudah  ada
Qur'an,  maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang
menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di  kalangan
yang  hadir  itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan:
Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita  tidak  sesat.  Ada
pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.
 
Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata:
 
"Pergilah  kamu  sekalian!  Tidak  patut  kamu berselisih di
hadapan Nabi."
 
Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa  mereka  membuang
waktu   karena  tidak  segera  menuliskan  apa  yang  hendak
dikatakan oleh Nabi.  Sebaliknya  Umar  masih  tetap  dengan
pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman:
 
"Tiada  sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." (Qur'an,
6:38)
 
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah  tersiar
dari  mulut  ke  mulut,  sehingga  akhirnya  Usama  dan anak
buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke  Medinah.  Bila
Usama  kemudian  masuk  menemui  Nabi  di rumah Aisyah, Nabi
sudah  tidak  dapat  berbicara.  Tetapi  setelah  dilihatnya
Usama,  ia  mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya
kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya  yang  demikian  keluarganya  berpendapat
hendak  membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang
kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam  minuman,  yang
pernah  dipelajari  cara  pembuatannya  selama ia tinggal di
Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan  pingsan  karena
demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman
itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya:
 
"Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"
 
"Kami  kuatir  Rasulullah  menderita  sakit  radang  selaput
dada," kata 'Abbas pamannya.
 
"Allah  tidak  akan  menimpakan  penyakit  yang demikian itu
kepadaku."
 
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam  rumah  -  supaya
meminum  obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang
berpuasa.
 
Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai
terasa  berat.  Kuatir  bila  ia  meninggal  harta  masih di
tangan, maka dimintanya  supaya  uangnya  itu  disedekahkan.
Tetapi  karena  kesibukan mereka merawat dan mengurus selama
sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa
melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum
hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia  bertanya
kepada  mereka:  Apa  yang  kamu lakukan dengan (dinar) itu?
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya.  Kemudian
dimintanya   supaya   dibawakan.  Bilamana  uang  itu  sudah
diletakkan di tangan Nabi, ia berkata:
 
"Bagaimanakah jawab  Muhammad  kepada  Tuhan,  sekiranya  ia
menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya."
 
Kemudian   semua   uang   dinar   itu   disedekahkan  kepada
fakir-miskin di kalangan Muslimin.
 
Malam itu Muhammad  dalam  keadaan  tenang.  Panas  demamnya
sudah   mulai   turun,  sehingga  seolah  karena  obat  yang
diberikan keluarganya itulah yang sudah  mulai  bekerja  dan
dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat
pula di waktu subuh keluar  rumah  pergi  ke  mesjid  dengan
berikat  kepala  dan  bertopang  kepada Ali b. Abi Talib dan
Fadzl bin'l-'Abbas. Abu  Bakr  waktu  itu  sedang  mengimami
orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang
melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira
yang   luarbiasa,  hampir-hampir  mereka  terpengaruh  dalam
sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi  isyarat  supaya  mereka
meneruskan  salatnya.  Bukan  main  Muhammad  merasa gembira
melihat semua itu.
 
Abu Bakr merasa apa yang telah  dilakukan  mereka  itu,  dan
yakinlah  dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau
tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat  sembahyangnya
untuk  memberikan  tempat  kepada Muhammad. Tetapi Muhammad
mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang
bersembahyang.  Dia  sendiri  kemudian  duduk di samping Abu
Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya
 
Selesai sembahyang ia menghadap  kepada  orang  banyak,  dan
kemudian  berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar
sampai ke luar mesjid:
 
"Saudara-saudara. Api (neraka)  sudah  bertiup.  Fitnah  pun
datang  seperti  malam  gelap  gulita. Demi Allah, janganlah
kiranya kamu  berlindung  kepadaku  tentang  apa  pun.  Demi
Allah,  aku  tidak  akan  menghalalkan sesuatu, kecuali yang
dihalalkan oleh Qur'an, juga  aku  tidak  akan  mengharamkan
sesuatu,  kecuali  yang diharamkan oleh Qur'an. Laknat Tuhan
kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka  sebagai
mesjid."
 
Melihat  tanda-tanda  kesehatan  Nabi  yang  bertambah maju,
bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama  b.
Zaid  datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa
pasukan ke Syam,  dan  Abu  Bakrpun  datang  pula  menghadap
dengan mengatakan:
 
"Rasulullah!6  Saya  lihat  tuan sekarang dengan karunia dan
nikmat Tuhan sudah sehat kembali.  Hari  ini  adalah  bagian
Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?"
 
Nabi  pun  mengijinkan.  Abu  Bakr segera berangkat pergi ke
Sunh di luar kota Medinah - tempat tinggal  isterinya.  Umar
dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum
Muslimin sudah mulai  terpencar-pencar  lagi.  Mereka  semua
dalam  suasana suka-cita dan gembira sekali, - sebab sebelum
itu mereka semua dalam  kesedihan,  berwajah  suram  setelah
mendapat  berita  bahwa  Nabi  dalam keadaan sakit, demamnya
semakin keras sampai ia pingsan.
 
Sekarang ia kembali pulang ke rumah  Aisyah.  Senang  sekali
hatinya  melihat  kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan
hati bersemarak, meskipun ia masih merasakan badannya sangat
lemah sekali.
 
Dipandangnya  laki-laki  itu  oleh Aisyah, dengan kalbu yang
penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang  penuh
rasa  iba hati karena ia lemah, ia sakit. Ia ingin sekiranya
ia dapat mencurahkan segala yang  ada  dalam  dirinya  untuk
mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.

Akan  tetapi,  kiranya  perginya  Nabi  ke mesjid itu adalah
suatu kesadaran batin,  yang  akan  disusul  oleh  kematian.
Setelah  memasuki  rumah,  tiap sebentar tenaganya bertambah
lemah juga. Ia melihat  maut  sudah  makin  mendekat.  Tidak
sangsi  ia  bahwa  hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja
lagi.  Ya,  kiranya   apakah   yang   diperhatikannya   pada
detik-detik  yang masih ada sebelum ia berpisah dengan dunia
ini? Adakah ia  mengenangkan  hidupnya  sejak  diutus  Tuhan
sebagai  pembimbing  dan  sebagai  nabi, mengenangkan segala
yang pernah dialaminya selama itu, kenikmatan yang diberikan
Tuhan  kepadanya  sampai  selesai, kemudian hati merasa lega
karena kalbu orang-orang Arab  itu  sudah  terbuka  menerima
agama  yang hak? Ataukah selama itu ia tinggal hanya membaca
istighfar - meminta pengampunan  Tuhan  dan  dengan  seluruh
jiwa  ia  menghadapkan  diri seperti yang biasanya dilakukan
selama dalam hidupnya? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir
itu ia harus menahan penderitaan sakratulmaut sehingga tidak
lagi punya tenaga akan mengingat?

Dalam hal ini beberapa sumber  masih  sangat  berlain-lainan
sekali  keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada
hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8
Juni  632  -  ia  minta  disediakan sebuah bejana berisi air
dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana  itu  ia
mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki
dari keluarga  Abu  Bakr  datang  ke  tempat  Aisyah  dengan
sebatang  siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian
rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah
benda  yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah
dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya  kepada  Nabi.
Kemudian  dengan  itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri
kepada  Allah  sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah
aku dalam sakratulmaut ini."
 
Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi  berada  di
pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat
di   pangkuanku.   Kuperhatikan   air   mukanya,    ternyata
pandangannya  menatap  ke  atas  seraya  berkata, "Ya Handai
Tertinggi7 dari surga."
 
"Kataku,  'Engkau  telah  dipilih  maka  engkau  pun   telah
memilih.   Demi  Yang  mengutusmu  dengan  Kebenaran.'  Maka
Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara  dada8  dan
leherku  dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang
lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan  usiaku  yang  masih
muda,  Rasulullah  s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku.
Kemudian kuletakkan kepalanya di atas  bantal,  aku  berdiri
dan   bersama-sama   wanita-wanita  lain  aku  memukul-mukul
mukaku."
 
Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi
perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul
fitnah di kalangan mereka dengan  segala  akibat  yang  akan
menjurus  kepada  perang  saudara,  kalau tidak karena Tuhan
Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan  agama  yang
sebenarnya ini.
 
Catatan kaki:
 
1 yaitu Mu'adh b. Jabal (A)
2  Siwak,  batang  kayu  kecil  dengan  dilunakkan  ujungnya
dipakai menggosok dan membersihkan gigi (A)
3 Bandingkan: Al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari (jilid 2 p.  117)
dalam menafsirkan Surah Hud ayat 112 (11 : 112) dan Mufradat
Raghib, sub verbo "dzall" (A).
4 Ahida ila, berarti 'berwasiat' (N), atau 'berpesan' (A).
5 Tayawaza 'an yakni 'afa 'an (N), 'memaafkan' (A).
6 Aslinya "Ya Nabiullah' (A)
7 Ar-Rafiq'-A'la pada umumnya ahli-ahli filologi mengartikan
kata rafiq ini, dengan 'handai taulan;' 'yang lemah-lembut;'
'teman seperjalanan;' 'kawan hidup, suami atau isteri' (LA).
Dalam istilah Hadis: rafiq berarti 'para nabi yang menempati
tempat tertinggi,' untuk jamak dan tunggal (N);  kata  rafiq
dalam  Qur'an  (4:  691 berarti 'teman seperjalanan' (N) dan
rafiq dalam doa di atas ada yang mengartikan  'Tuhan'  yakni
'Yang  lemah-lembut  kepada  hambaNya'  (N). Berarti 'teman'
dalam  surga,  (Qur'an,  4:69)   demõkian   sebagian   besar
ahli-ahli   tafsir   Qur'an.  Dalam  terjemahan  ini  dengan
kira-kira dipergunakan kata 'Handai Tertinggi' (A).
8  Sahr  'berarti  paru-paru,  yakni  ia  meninggal   sedang
bersandar di dadanya yang menjurus ke paru-paru' {N) (A).
9 Safah, harfiah: kebodohan (A).







S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
  oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
  diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
  Penerbit PUSTAKA JAYA
  Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
  Cetakan Kelima, 1980

Tidak ada komentar:

Posting Komentar